Ketika Kekuasaan Kehilangan Kepekaan: Potret Demonstrasi dan Reformasi Semu di Parlemen
Ketika Kekuasaan Kehilangan Kepekaan: Potret Demonstrasi dan Reformasi Semu di Parlemen
“Selama keserakahan masih menjadi landasan
kekuasaan, maka rakyat kecil akan terus menjadi korban. Tidak ada bangsa yang
benar-benar merdeka bila suara mereka yang paling lemah tak pernah didengar,
dan penderitaan mereka hanya menjadi angka dalam laporan pejabat”
-Pramoedya Ananta Toer
Pada
akhir Agustus 2025, gelombang kemarahan publik di Indonesia pecah ketika para
mahasiswa dan elemen-elemen masyarakat turun ke jalan untuk menuntut pembatalan
tunjangan perumahan bagi anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan. Demonstrasi ini
bukan hanya sekedar reaksi spontan dari masyarakat melainkan untuk menunjukan kegelisahan
yang lebih dalam terkait privilege legislatif, kepercayaan publik, dan
moralitas wakil rakyat.
Tunjangan
rumah tersebut diperoleh oleh anggota DPR sebagai “dana kontrak rumah” selama
satu tahun terhitung dari bulan Oktober 2024 hingga bulan Oktober 2025 dengan
alasan bahwa fasilitas rumas dinas di Kalibata itu sudah tidak lagi diberikan (kompas.tv,
2025). Dasco menjelaskan, angka tersebut merupakan kalkulasi dari estimasi
biaya sewa di Jakarta selama lima tahun masa jabatan DPR periode 2024-2025
(detik.com, 2025)
Namun,
hal tersebut menjadi kontroversi yang tidak bisa dielakkan. Masyarakat pastinya
mempertanyakan apakah alokasi ini benar-benar “kontrak rumah” untuk wakil
rakyat, atau justru bentuk kompensasi mewah yang jauh dari realitas hidup
mayoritas rakyat. Apalagi angka tersebut terasa sangat fantastis jika
dibadingkan dengan standar upah minimum dari sebagian besar rakyat Indonesia.
Aksi
demonstrasi besar-besaran pun idak dapat dihindarkan lagi, demonstrasi ini
melibatkan ribuan mahasiswa dan masyarakat yang menimbang bahwa kebijakan
tersebut menyimbolkan jurang sosial antara elite politik dan rakyat biasa (theguardian.com,
2025). Bahkan adu gas air mata dan bentrokan pun terjadi di sekitar gedung DPR
maupun DPRD di setiap daerahnya. Hal itu memperlihatkan bahwa rakyat tidak lagi
bisa dipandang sebelah mata (reuters.com, 2025).
Menjawab
tekanan publik tersebut DPR akhirnya menyetujui penghentian tunjangan rumah
tersebut terhitung dari 31 Agustus 2025 (kabar24.bisnis.com, 2025) Menurut
dasco, pemberian Rp 50 juta itu hanyalah bersifat sementara dan akan “diangsur”
untuk kebutuhan sewa selama lima tahun menjabat (news.detik.com, 2025).
Tidak
hanya itu saja, DPR juga menyepakati moratorium kunjungan luar negeri bagi
anggota DPR sebagai bagian dari paket reformasi internal yang tengah
digurlirkan (kabar24.bisnis.com, 2025). Di sisi lain, DPR juga menjelaskan
bahwa setelah dilakukan penyesuaian dan pemangkasan sejumlah tunjangan, take-home
pay anggota DPR kini berada di angkat Rp 65 juta per bulan. Pernyataan ini
disampaikan sebagai bentuk klarifikasi atas kritik publik terkait besaran
tunjangan dan fasilitas yang sebelumnya dianggap terlalu tinggi
(antaranews.com, 2025).
Langkah yang DPR ambil untuk menghentikan tunjangan rumah memang merupakan respon yang konkret terhadap tuntutan publik, dan hal tersebut bisa saja dianggap sebagai kemenangan simbolik rakyat. Namun hal tersebut tetap menyisakan beberapa pertanyaan besar, seperti:
- Transparansi dan Kejelasan: Penjelasan DPR mengenai skema “angsuran satu tahun untuk kontak lima tahun” justru menambah kompleksitas dan keraguan dimata rakyat (kompas.tv, 2025). Banyak rakyat yang merasa bahwa penjelasan yang kurang detail tersebut menjadi awal pemicu salah paham dan kemarahan.
- Keberlanjutan Reformasi: Dengan penghentian tunjangan rumah ini merupakan langkah awal untuk benar-benar memperbaiki kredibilitas politik, DPR juga harus meninjau ulang semua tunjangan besar, memperkuat mekanisme akuntabilitas, dan mengedepankan transparansi anggaran secara menyeluruh.
- Kepercayaan Publik: Demonstrasi yang dilakukan rakyat menunjukkan bahwa rakyat sudah muak dengan elit yang hidup “terpisah” dari realitas yang ada. Reformasi simbolis tanpa tindakan sistemik bisa kembali menumbuhkan skeptisme.
Gelombang
demonstrasi yang muncul tersebut mencerminkan beta pentingnya kontrol sosial
dalam sebuah negara demokrasi. Aksi tersebut mengingatkan bahwa kekuasaan yang
dijalankan tanpa keterlibatan dan pengawasan rakyat berpotensi keluar dari
jalurnya. Privilege besar yang dirasakan
oleh wakil rakyat di mata banyak warga menjadi simbol bahwa institusi
legislatif masih terlalu tertutup dan ekslusif.
Langkah yang diambil oleh DPR dengan
menghentikan tunjangan perumahan dan memangkas fasilitas lainnya merupakan
respon penting terhadap desakan rakyat. Namun, reformasi yang sesungguhnya
menuntut lebih dari sekedar pemangkasan angka melainkan perlu adanya perubahan
struktur, tranparansi mendalam, dan kontrol publik yang sustained.
Rakyat sudah menunjukkan bahwa mereka mampu
bersuara keras dan kini giliran DPR yang harus membuktikan bahwa mereka bisa
berubah secara sistemik yang tidak hanya untuk menyelamatkan citra, melainkan
untuk membangun kembali legitimasi dan moral politik yang rapuh.

Komentar
Posting Komentar